Tuesday, August 1, 2017

Ariel Ortega Si Keledai Argentina

Mendapat julukan El Burrito atau Si Keledai, Ortega telah bermain untuk banyak kesebelasan di sepanjang karirnya, seperti Newell's Old Boys, Parma, Valencia, Fenerbah├že hingga Sampdoria. Di kancah internasional sendiri, Ortega sudah tampil sebanyak 97 kali bersama Argentina dengan menorehkan 19 gol hingga memasuki tahun 2008. Prestasi yang cukup membanggakan lainnya adalah tampil di Piala Dunia 1994, 1998 dan 2002 serta mendapat medali perak di Olimpiade musim panas tahun 1996. 

Di masa jayanya, Ortega juga merupakan pemain yang dikenal dengan permainannya dalam menggiring bola serta jago dalam melakukan umpan lambung. 
Selama bertahun-tahun saja, pemain yang nyaris selalu menggunakan nomor punggung 10 ini dikenal sebagai eksekutor bola mati. Sebagaimana kebanyakan pemain Argentina lainnya, Ortega sendiri punya keahlian sebagai pengendali permainan atau playmaker.
Diluar dari kemampuannya yang mumpuni, semua itu seakan tertutup dengan tingkah laku sang pemain. Pasalnya Ortega merupakan pemain yang dikenal cukup temperamental dan dekat dengan alkohol. Ulahnya yang cukup diingat adalah saat ia melakoni laga melawan Belanda di Piala Dunia tahun 1998, kala itu Ortega mengamuk dan menanduk wajah penjaga gawang Belanda, Edwin van der Sar. Hal tersebut ia lakukan setelah dituduh melakukan diving oleh sang penjaga gawang, tak segan-segan wasit pun langsung mengeluarkan kartu merah. Meski membuat aksi yang cukup konyol, Ortega tidak kehilangan kepercayaan dari pelatih Argentina berikutnya untuk menginjakkan kaki di Piala Dunia 2002. Namun ia dan Argentina harus menelan pil pahit tersingkir di babak grup usai kalah dari Swedia dan Inggris, dan momen tersebut menjadikan momen terakhir yang diikuti oleh Ortega.
Untuk di level klub, Ortega masuk kedalam kategori salah satu investasi terburuk di Serie A versi La Gazetta dello Sport. Ia datang dari Valencia kemudian hijrah ke Sampdoria dan kemudian menuju Parma, sebelum hingga akhirnya berlabuh ke Fenerbahce dengan harga transfer 15 juta dolar. Namun tak berlangsung lama, Ortega hanya bermain sebanyak 14 pertandingan kala bergabung dengan Fenerbahce, dengan dalih mengalami kesulitan adaptasi. Akibat keputusannya tersebut, Ortega pun mulai mendapat cemoohan dari banyak pihak. ia bahkan dihadiahi spanduk bertuliskan yang Cobarde Gallina Ortega berarti Ortega adalah seorang pengecut. Tak hanya mendapat hujatan, sang pemain juga mendapat hukuman dari FIFA atas pelanggaran kontrak yang ia lakukan. Tak tanggung-tanggung Ortega mendapat larangan 19 kali bermain oleh komite sepakbola internasional tersebut. 
Pasca masa hukumannya berakhir, Ortega langsung bergabung dengan Newell's Old Boys. Keputusan itu dibuat lantaran pelatih dari klub tersebut merupakan teman baik dari Ortega. Seolah tak sia-sia, keputusan berduanya bergabung membuat Newell's Old Boys memenangkan laga Apertura di tahun 2004. Dua tahun bermain dengan Newell's Old Boys, Ortega bergabung dengan kesebelasan masa kecilnya River Plate di tahun 2006, namun keberuntungan tersebut tak berlangsung lama setelah ia harus mendapat penanganan rehabilitasi di Buenos Aires akibat kecanduan alkohol. 
Sekembalinya Ortega di tahun 2007, terbilang permainan sang pemain berada dalam kondisi stabil. Meski sembuh secara fisik, bisa dikatakan jika Ortega masih sedikit mengalami gangguan mental. Sang pelatih, Daniel Passarella yang kala itu merekrutnya ke River Plate, terlihat selalu merenung terkait kondisi sang pemain. Ia merasa berkecil hati akan kondisi anak didiknya itu, bukan tanpa sebab keluar masuknya Ortega kedalam tim cukup menjadi kendala untuk menerapkan skema ideal yang ia kehendaki. 
Namun segala kesabaran rupanya membuahkan hasil yang luar biasa, kasih sayang antara pelatih dan anak didik kali ini membuat kenangan yang sangat berharga, Ortega mengakhiri kisah pahitnya dengan cukup menggembirakan. Tepatnya di tahun 2013 sang pemain menjalani laga perpisahan di Stadion Monumental kala itu ia berhasil mencetak angka dan langsung memeluk sang anak di pinggir lapangan.